Jumat, 17 Februari 2012

Makalah Filsafat Ilmu


EPISTEMOLOGI SAIN


Disusun dalam rangka memenuhi tugas
Mata kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu:
Prof. DR. H. Shonhadji sholeh, Dip. Is

 









Disusun Oleh :
HASAN BASRI
NIM : 11.6.8.0966


PROGRAM PASCA SARJANA
JURUSAN MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
TAHUN 2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil alamin, Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan  Yang Maha Esa, atas selesainya tugas Makalah yang berjudul “EPISTEMOLOGI SAIN”.
Makalah ini penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu pada Program Pascasarjana Jurusan Magister Pendidikan Islam Surabaya Tahun Akademik 2011/2012.
Dengan segala penuh kesadaran, penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih penuh dengan banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga demi perbaikan, penulis masih mengharapkan ada bimbingan, kritik, saran dan pengarahan, baik dari dosen pengampu maupun rekan-rekan seperjuangan.
Dalam kesempatan ini, penulis sampaikan terima kasih kepada :
1.      Bapak Prof. DR. H. Shonhadji sholeh, Dip. Is
2.      Rekan-rekan seperjuangan
Demikianlah, tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik penulis harapkan. semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amien.

Surabaya, 12 Pebruari 2012
    
    Penulis,



DAFTAR ISI

Halaman judul                                                                                                 i
Kata Pengantar                                                                                               ii
Daftar isi                                                                                                         iii
BAB I :  PENDAHULUAN
a.    Latar belakang Masalah ……………………………………      01
b.    Rumusan Masalah …………………………………………       02
c.    Tujuan Penulisan …………………………………………..       02
BAB II:  PEMBAHASAN
a.    Pengertian Epistemologi ……………………………………     03
b.    Pengertian Sain ..……………………………………………     05
c.    Objek Pengetahuan Sain ……………………………………     06
d.   Cara memperoleh Pengetahuan Sain ………………………       06
1). Rasionalisme ……………………………………………      06
2). Empirisme ……………………………………………….     08
3). Posistivisme …………………………………………….      09
e. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain ……………………….       10

BAB III : PENUTUP
a. Kesimpulan …………………………………………………..       11
b. Saran ………………………………………………………….     11

 DAFTAR PUSTAKA


B A B  I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau t idak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada. sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.[1] Lalu bagaimana kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang dalam kajian filsafat disebut epistemologi, dan landasannya disebut metode ilmiah. Epistemologi disebut juga dengan filsafat ilmu, merupakan cabang filsafat yang mempelajari dan menentukan ruang lingkup pengetahuan. Epistemologi berusaha membahas bagaimana ilmu didapatkan, bukan untuk apa atau mengenai apa.
Pengetahuan berusaha memahami benda sebagaimana adanya, lalu akan timbul pertanyaan, bagaimana seseorang mengetahui kalau dirinya telah mencapai pengetahuan tentang benda sebagaimana adanya? Untuk menjawab apakah manusia telah tahu dengan pengetahuannya, maka epistemologi adalah jawabnya. Kepastian yang dicari oleh epitemologi dalam mencari kebenaran apakah manusia sudah benar sesuai dengan tingkat pengetahuan dimungkinkan oleh suatu keraguan. Dengan keraguan inilah akan memberi kesempatan kepada epistemologi untuk menjawabnya.
Kebenaran sebuah ilmu pengetahuan dapat diuji melalui landasan epistemologi. Karena penelaahan epistemology adalah rasional dan logis menurut kaidah keilmiahan. Titik tolaknya adalah bagaimana ilmu pengetahuan itu diperoleh melalu tata cara dan prosedur ilmiah sehingga dapat diterima kebenarannya Meskipun demikian tidak semua orang dapat disamakan persepsinya terhadap kebenaran  sebuah ilmu pengetahuan itu. Karena manusia sebagai subjek  tentu tingkat penelaahannya berbeda satu sama lain. Jika ilmu pengetahuan itu dianggap rasional menurut daya tangkap indra dan akalnya maka ia mempunyai nilai positif, tetapi sebaliknya jika  tidak dapat diterima oleh pemikirannya maka ilmu itu dianggap negatif. Dengan demikian sebuah kebenaran dari ilmu pengetahuan itu bersifat relative.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dan luasnya cakupan filsafat ilmu, maka masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah :
1.    Apakah Pengertian:
a.    Epistemologi ?
b.    Sain ?
2.     Apakah Objek Pengetahuan Sain ?
3.      Bagaimanakah Cara Memperoleh Pengetahuan Sain ?
4.      Apakah Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain ?

C.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.        Untuk mengetahui pengertian Epistemologi dan Sain.
2.        Untuk mengetahui Objek Pengetahuan sain
3.        Untuk mengetahui cara memperoleh pengetahuan sain
4.        Untuk mengetahui ukuran kebenaran pengetahuan sain.



B A B  II
PEMBAHASAN

A.      Pengertia Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos yang berarti kata, pikiran, ilmu atau teori. Karena itu secara etimologis, epistemologi berarti ilmu atau teori tentang pengetahuan yang benar atau teori pengetahuan.[2]
Istilah epistemology digunakan pertama kali oleh J,F. Feriere dengan maksud untuk membedakan dua cabang filsafat yaitu epistemologi dan ontologi (metafisika umum). Kalau dalam metafisika pertanyaan pokok itu menyangkut yang ada atau adanya (being), maka pertanyaan dasar dalam epistemology adalah apa yang saya ketahui.[3]
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan gagasan pengetahuan manusia. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh dan dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah, yaitu suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sistemik dan logis. Dalam rumusan lain, epistemology adalah cabang filsafat yang mempelajari watak, batas dan berlakunya ilmu pengetahuan.[4]
Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja? . Persoalan-persoalan penting yang dikaji dalam epistemology berkisar pada masalah :asal-usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubungan pengetahuan dengan keniscayaan, hubungan pengetahuan dengan kebenaran, kemungkinan skeptisisme universal, serta bentuk-bentuk perubahan pengetahuan yang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia.[5]
Dalam Kamus Webster disebutkan bahwa epistemologi merupakan “Teori ilmu pengetahuan (science) yang melakukan investigasi mengenai asal-usul, dasar, metode, dan batas-batas ilmu pengetahuan Mengapa sesuatu disebut ilmu? Apa saja lintas batas ilmu pengetahuan? Dan, bagaimana prosedur untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat ilmiah? Pertanyaan-pertanyaan itu agaknya yang dapat dijawab dari pengertian epistemologi yang sudah disebutkan. Filsafat, tulis Suriasumantri, tertarik pada cara, proses, dan prosedur ilmiah di samping membahas tentang manusia dan pertanyaan-pertanyaan di seputar ada, tentang hidup dan eksistensi manusia.
Dalam pembahasan lain bahwa Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi. Landasan epistemologisnya (menurut Wahyu dalam Filsafat Ilmu 2009 : slide 4 ) adalah titik tolak penelahaan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dalam hal ini yang dimaksud adalah  metode ilmiah. Adapun hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.
Hollingdale mendefinisikan epistemologi secara sederhana sebagai “Teori mengenai asal usul pengetahuan dan merupakan alat untuk mengetahui”[6]. Ia menegaskan, epistemologi merupakan: “The theory of the nature of knowing and the means by which we know”. dalam Dr. U. Maman Kh., M.Sc). Kata-kata “to know” (untuk mengetahui) dan “means” (alat-alat) menjadi kata kunci dalam poses epistemologis. Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu, serta metode (teknik, instrumen dan prosedur) apa yang kita gunakan untuk mencapai pengetahuan yang bersifat ilmiah? Inilah inti pembahasan yang menjadi perhatian epistemologi.
Jujun S Surlasumantri menjelaskan bahwa Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan; apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan ? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia.[7]

B.       Pengertian Sain
            Ilmu atau science secara harfiah berasal dari kata Latins cire yang berarti mengetahui. Karena itu,science dapat diartikan “situasi atau fakta mengetahui, sepadan dengan pengetahuan (knowledge), yang merupakan lawan dari intuisi atau kepercayaan. Selanjutnya, kata science mengalami perkembangan dan perubahan makna menjadi “pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk mengetahui sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji.  Dengan demikian, sains yang berarti “pengetahuan” berubah menjadi “pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi indrawi.” Perkembangan berikutnya, lingkup sains hanya terbatas pada dunia fisik, sejalan dengan definisi lain tentang sains sebagai “pengetahuan yang sistematis tentang alam dan dunia fisik.

Dengan mensyaratkan observasi, sains harus bersifat empiris, baik berhubungan dengan benda-benda fisik, kimia, biologi, dan astronomi maupun berhubungan dengan psikologi dan sosiologi. Inilah karakter sains yang paling mendasar dalam pandangan epistemologi konvensional. Sains merupakan produk eksperimen yang bersifat empiris. Eksperimen dapat dilakukan, baik terhadap benda- benda mati (anorganik) maupun makhluk hidup sejauh hasil eksperimen dapat diobservasi secara indrawi. Eksperimen pun dapat dilakukan terhadap manusia, seperti yang dilakukan Waston dan penganut aliran behaviorisme klasik lainnya.


C.      Objek Pengetahuan Sain

Objek pengetahuan sain (yaitu objek-objek yang diteliti sain) ialah semua objek yang empiris. Jujun S Suriasumantri yang telah dikutip oleh Ahmad Tafsir mennyatakan bahwa objek kajian sain hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman indera.[8]
Objek kajian sain haruslah objek-objek yang empiris sebab bukti-bukti yang harus ia temukan adalah bukti-bukti yang empiris. Bukti yang empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah dirumuskan dalam hepotesis.
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sain banyak sekali: alam, tumbuhan, hewan, dan manusia, serta kejadian-kejadian di sekitar alam, tumbuhan, hewan dan manusia itu; semuanya dapat diteliti oleh sain. Dari penelitian itulah muncul teori-teori sain. Teori-teori itu berkelompok dan dikelompokkan dalam masing-masing cabang sain. Teori-teori yang berkelompok itulah yang disebut struktur sain, baik cabang-cabang sain maupun isi masing-masing cabang sain tersebut.[9]

D.      Cara Memperoleh Pengetahuan Sain

Untuk dapat memperoleh pengetahuan sain terdapat beberapa aliran sebagaimana dibawah ini yaitu :

1). Rasionalisme
Rasionalisme adalah madhab filsafat ilmu yang berpandangan bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme, dengan demikian, adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual manusia.
Ahmad tafsir menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula.[10] Konrad Kebung, menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah aliran berfikir yang berpendapat bahwa pengetahuan yang benar mengandalkan akal dan ini menjadi dasar pengetahuan ilmiah. Mereka memandang rendah pengetahuan yang diperoleh melalui indera bukan dalam arti menolak nilai pengalaman dan melihat pengalaman melulu sebagai perangsang bagi akal atau pikiran. Kebenaran dan kesesatan ada dalam pikiran kita dan bukannya pada barang yang dapat dicerap oleh indera kita. Beberapa tokoh penting rasionalisme adalah : Plato, Descartes, Spinoza dan Leibniz. [11]
Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia. Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak dapat dilepaskan dari andil rasionalisme untuk mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.

2). Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Bagi kaum filsup empiris, sumber pengetahuan satu-satunya adalah pengalaman dan pengamatan inderawi. Data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera kita adalah sumber pengetahuan. Semua ide yang benar datang dari fakta ini. Sebab itu semua pengetahuan manusia bersifat empiris.[12]
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
1.      Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
2.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
3.      Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4.      Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
5.       Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
6.      Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.[13]

            Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah pendiri utama tradisi empirisme.

 Sumbangan utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan.

3). Positivisme
Positivisme adalah doktrin filosofi dan ilmu pengetahuan sosial yang menempatkan peran sentral pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu pengetahuan dan penelitian. Terminologi positivisme dikenalkan oleh Auguste Comte untuk menolak doktrin nilai subyektif, digantikan oleh fakta yang bisa diamati serta penerapan metode ini untuk membangun ilmu pengetahuan yang diabdikan untuk memperbaiki kehidupan manusia.[14]
Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur. Terukur inilah sumbangan penting positivism.[15]
Tokoh-tokoh yang paling berpengaruh dalam mengembangkan tradisi positivisme adalah Thomas Kuhn, Paul K. Fyerabend, W.V.O. Quine, and filosof lainnya. Pikiran-pikiran para tokoh ini membuka jalan bagi penggunaan berbagai metodologi dalam membangun pengetahuan dari mulai studi etnografi sampai penggunaan analisa statistik.
Sementara menurut Ahmad Tafsir bahwa ketiga faham diatas saling berkaitan, Rasionalisme atau berfikir logis tidak menjamin dapat memperoleh kebenaran yang disepakati. Kalau begitu diperlukan hal lain yaitu Empirisme. Sementara itu Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional, karena belum terukur. Jadi diperlukan alat lain yaitu Positivisme. Kata positivism, ajukan logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita masih memerlukan alat lain. Alat lain itu ialah Metode Ilmiah. Metode ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah beriku: logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.[16]
Metode ilmiah itu secara tekhnis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset. Metode riset menghasilkan model-model penelitian. Dengan menggunakan Model penelitian tertentu kita mengadakan penelitian. Hasil-hasil penelitian itulah yang kita warisi sekarang berupa tumpukan pengetahuan sain dalam berbagai bidang sain.[17]


E.       Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain.
Ukuran kebenaran pengetahuan sain dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1). Uji logika, sebuah hepotesis bisa lolos apabila teori itu logis.
2). Uji Empiris, yaitu adakan eksperimen, ukuran kebenaran sains adalah benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Hipotesis yang terbukti maka menjadi teori kemudian didukung bukti empiris maka teori itu menjadi hukum dan disebut aksioma.[18]



B A B III

P E N U T U P
a.       Kesimpulan.
1. Pengertian Epistemologi Sain
a). Pengertian Epistimologi adalah : pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan atau Teori mengenai asal usul pengetahuan dan merupakan alat untuk mengetahui.
b). Pengertian Sain adalah pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk mengetahui sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji.  Dengan demikian, sains yang berarti “pengetahuan” berubah menjadi “pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi indrawi.
2. Objek pengtahuan Sain adalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman indera.
3. Cara memperoleh pengetahuan sain adalah ada beberapa aliran yaitu : Rasionalisme, Empirisme dan Positivisme.
4. Ukuran kebenaran pengetahuan sain dapat dilakukan dengan dua cara : yaitu:
1). Uji logika.
2). Uji Empiris, yaitu adakan eksperimen.

b.       Saran
a). Untuk guru/calon guru sebaiknya mendalami bidang ini dengan baik agar dapat menggunakannya dalam pengembangan tugas di lembaga masing-masing
b). Saran dan masukkan sangat kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.


[1] Jujun S Surlasumantri " Filsafat Ilmu , Sebuah pengantar poupuler"  PT.Penebar Swadaya, Jakarta , 2010  hlm;104
[2] Konrad Kebung, P. hd,  "Filsafat Ilmu Pengetahuan " PT. Pustakaraya, Jakarta, 2011, hlm : 37
[3] Ibid
[4] Nina W Syam M.S, " Filsafat sebagai akar Ilmu Komunikasi "  Remaja Rosda Karya, Bandung, 2010, hlm :139
[5] Ibid, hlm : 140
[6] R.J. Hollingdale, Western Philosophy (London: Kahn & Averill, 1993) hal. 37
[7] Jujun S Surlasumantri, op cit,   hlm;119
[8]  Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu. PT Remaja Rosda Karya, Bandung 2004, hlm 27
[9] Ibid, hlm 28
[10] Ahmad Tafsir, op cit hlm 30
[11] Konrad Kebung, op cit, hlm: 51-52
[12] Ibid: 55
[14] Ibid
[15] Ahmad Tafsir op cit  hlm:  32
[16]  Ibid , hlm: 33
[17] Ibid
[18] Ahmad tafsir, op cit, hlm 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar